Kategori

Arsip

ArsipPilih moon Maret 2008 Februari 2008 Januari 2008

Tulisan Terakhir

Tulisan Teratas


( makhluk khutbah Jum’at tanggal, 31 Desember 2006 M)

 oleh : Prof. Dr. Nazaruddin Umar

 Salah satu dimensi kebesaran Nabi Ibrahim ialah besarnya pengorbanan yang ditunjukkan kepada Allah malalui ketulusannya batin mengorbankan putra kesayangannya. Nabi Isma’il lahir ke melalui penantian yang cukup panjang dari familic ini.Kisah familial Nabi Ibrahim sarat ini adalah pesan-pesan moral. Nabi Ibrahim adalah simbol bagi manusia apa rela mengorbankan maafkan saya saja demi dengan keridhaan Tuhan, rela menyembelih anaknya, ~ rela mengorbankan diri batin kobaran api.

Anda sedang menonton: Kumpulan khutbah jumat masjid istiqlal

Setiap setiap orang mempunyai kelemahan terhadap sesuatu apa dicintainya. Kelemahan Ibrahim terletak diatas anak kesayangannya apa sudah lama didambakannya, dan dari sini pula back diuji tuhan berupa godaan setan, tetapi Nabi Ibrahim lulus dari ujian itu. Ia secara tulus dan ikhlas mau mengorbankan putra kesayangannya.Nabi Isma’il adalah simbol bagi sesuatu yang most dicintai dan sekaligus berpotensi melemahkan dan menggoyahkan iman, simbol bagi sesuatu apa dapat untuk membuat kita ragu-ragu menerima tanggung jawab.

Simbol bagi sesuatu apa dapat mengajak kita untuk berpikir subyektif dan berpendirian egois. Tegasnya, simbol bagi segala sesuatu yang dapat menyesatkan kita.Mari itupenggunaan mengintrospeksi dan mengukur diri kita masing-masing. Seandainya kita adalah figur “Ibrahim”, sudahkah untuk kita memperoleh memercayai setangguh beliau? Sudahkah kita menunjukkan pengorbanan yang optimal setelah jalan-jalan yang diridhai Tuhan?

Jika kita misalnya berada di puncak karir, siap relakah itupenggunaan mengorbankan segalanya demi mempertahankan prinsip-prinsip ajaran yang dianut?“Nabi Isma’il” simbol bagi sesuatu apa amat kita cintai, cantik barang tentu saja kita semua memiliki sesuatu apa dicintai. Boleh jadi “Isma’il-Isma’il” itupenggunaan berbentuk harta kekayaan, semisal kendaraan baru, rumah mewah, jabatan penting, deposito, atau kekayaan lainnya. Apakah kita cantik rela mengorbankannya karena mencapai hasil hidup yang sebenarnya, yaitu dengan ridha Tuhan?

Jika kita kemudian suami, sudah sanggupkah kita salinan ketangguhan mempercayai Nabi Ibrahim, mengorbankan sesuatu yang paling dicintainya, demi praktek perintah Tuhan? Jika kita such istri, sudah sanggupkah kita salinan ketabahan dan ketaatan Hajar, merelakan suaminya menjalankan perintah tuhan dan menghargai jiwa besar anaknya? Jika kita seperti anak, sudahkah kita pribadi idealisme apa tangguh setangguh Nabi Isma’il yang rela dulu korban untuk suatu tujuan mulia?

Kisah-kisah apa ditampilkan Al-Qur’an mendesak patut dulu pembelajaran untuk kita semua. Nabi Ibrahim melahirkan anak most sejati dalam Al-Qur’an (Q.S. 37. Al-Shaffat : 102). Ia bukan hanya anak biologis, melainkan sekaligus anak spiritual. Membandingkan dengan putra Nabi Nuh, meskipun ia seorang putra biologis Nabi, tetapi ia dulu pembangkang dan kufur. Itulah sebabnya ia dicap hanya sebagai anak biologis, tetapi ~ no anak spiritual ayahnya (Q.S.11. Hud : 46).

Fir’aun adalah sosok manusia paling angkuh apa tersebut di dalam al-Qur’an, tetapi isterinya mendapatkan pujian sebagai isteri salehah yang beriman (Q.S. 66 At-Tahrim : 11). Bandingkan dengan istri paling pengkhianat batin Al-Qur’an ternyata istri Nabi Luth dan Nabi Nuh (Q.S. 66 At-Tahrim : 10). Ini merupakan pelajaran penting untuk kita bahwa kehebatan ataukah kelemahan sosok figur di dalam keluarga bukan jaminan bagi familial lainnya untuk melakukan hal yang sama.

Semoga anak keturunan kita tidak hanya menjadi anak keturunan bioaktif kita, tetapi sekaligus anak keturunan spirituality kita. Semoga istri/suami untuk kita bukan just istri/suami bioactive kita, melainkan sekaligus istri/suami spirituality kita.Hari raya Idul Adha ini juga momentum apa baik untuk mempersiapkan generasi milenium ketiga, suatu generasi apa betul-betul terpilih (the chosen people) atau umat pilihan (khairu ummah) menurut istilah Al-Qur’an (Q.S. 4 Ali Imran : 110).

Al-Qur’an memberikan warning bagi itupenggunaan agar noël meninggalkan generasi lemah dan noël punya daya tdk normal : وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا

Dan hendaklah undg kepada Allah orang-orang apa seandainya ditinggalkan di belakang mereka generasi apa lemah… “ (Q.S. An-Nisa : 9)Sebaliknya, Al-Qur’an memberikan dorongan untuk mempersiapkan generasi yang betul-betul professional, luaran kemampuan kompetisi yang handal, generasi apa kuat dan terpercaya, sebagaimana dilukiskan dalam al-Qur’an : إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ اْلأَمِينُ

….sesungguhnya generasi yang most baik yang kamu pilih buat bekerja ialah generasi apa kuat lainnya dapat dipercaya” (Q.S. 28 Al-Qashash : 26)

Generasi al-qawiyy al-amin menurut ulama Tafsir ialah generasi yang sehat jasmani dan rohani, serta memiliki berbagai kecerdasan, keterampilan, dan keunggulan, lateral kejujuran dan amanah. Menjangkau demikian, generasi karena milenium ketiga ialah generasi al-qawiyy al-amin, yakni generasi sulit dan terpercaya.Prasyarat untuk mencapai umat appropriate (khairu Ummah) ialah terbentuknya pribadi-pribadi pleno dan keluarga-keluarga tangguh such cikal bakal burger umat.

Sulit memperkenalkannya umat apa ideal tanpa pribadi pleno dan keluarga yang sakinah. Itulah sebabnya Al-Qur’an dan hadis lebih banyak berbicara circa pembentukan memiliki dan keluarga, bukannya kerumunan berbicara sekitar masyarakat dan negara.Keluarga sakinah seperti cikal bakal umat dan warga bangsa apa ideal merupakan obsesi Al-Qur’an.

Keluarga sakinah just dapat diwujudkan malalui institusi perkawinan sah dan Allah SWT melarang sulit perzinahan. Itulah sebabnya perkawinan di dalam Islam, menurut Imam syafi’i, bukan sekedar kontrak sosial (‘aqd al tamlik), melainkan juga memiliki makna sakral (‘aqd al ‘ibadah). Kelembagaan perkawinan menuntut berbagai syarat dan ketentuan agar rumah tangga yang terbentuk kelak melahirkan generasi-generasi pilihan. Keluarga dan rumah tangga yang normal dan menyelesaikan berpotensi melahirkan generasi apa tangguh, sebaliknya familic dan rumah tangga yang berantakan berpotensi melahirkan generasi apa lemah.

Lihat lainnya: Gambar Animasi Tiang Bendera Merah Putih, 500+ Gambar Tiang Bendera & Bendera Gratis

Wajarlah kiranya jika Rasulullah pernah mengingat bahwa, “Sesuatu apa halal tetapi paling dibenci Allah ialah perceraian” bercerai adalah lambang kegagalan sebuah rumah tangga.