"Saya bilang kepada Papa bahwa religius itu adalah jenuh milik hati, jadi keagamaan itu merupakan peluang hati."


Selsa melayangkan ingatannya hampir 32 lima yang lalu dalam keluarganya. Ia, yang kala itu masih berusia 17 tahun, dikelilingi banyak orang, implisit ayahnya sendiri. Seorang pimpinan agama menumpangkan kitab suci di ~ kepalanya. Ketegangan melanda dirinya, begitu juga orang-orang di kamarnya itu. Batinnya berkecamuk. Samar-samar Selsa dengar doa-doa dipanjatkan.

Anda sedang menonton: Kisah orang islam masuk kristen

"Rasanya terombang-ambing seperti naik wahana Kora-kora di Ancol," ujar Selsa saat untuk menceritakan sebuah cerita kepada fasettoblog.comX beberapa times lalu. Tak lama kemudian, ia dirugikan kesadaran. Usai siuman, Selsa pemandangan wajah ayahnya yang tampak girang. "Domba yang hilang telah kembali," ayahnya berseru. Ia hanya bisa terdiam dan pasrah. Selsa saat itu bagus menantang arus di rumahnya sendiri selagi memilih jalur keyakinan yang berbeda mencapai orang basi dan saudara-saudaranya. Selsa memilih dilampiri Islam, sementara familic intinya adalah pemeluk kristen Protestan.

Kisah Selsa, apa lahir di champa 49 five yang lalu, berawalan saat dirinya masih berusia 5 tahun. Neneknya di Temanggung, Jawa Tengah, bertanya tentang seorang cucu untuk menemani kepada anak perempuannya yang tambahan ibu kandung Selsa. Ayah kandung Selsa, yang berasal dari Sangihe Talaud, memveto memberikan putra pertamanya. "Akhirnya, setelah agak besar, saya yang diserahkan kepada Mbah Putri," ujar Selsa, seorang narablog yang juga penyunting naskah di sebuah penerbit.

Ayahnya seorang penganut Kristen yang taat. Saat usia Selsa menginjak 6 tahun, ayahnya menjemputnya ke Temanggung. Ia dibawa pulang sebentar untuk dibaptiskan secara kristen di gereja. Namun, di Temanggung, Selsa kehidupan di lingkungan homogen, apa semuanya merupakan keluarga-keluarga muslim. Neneknya seorang muslim yang saleh. Almarhum kakeknya adalah imam di musala kampung.

Kehidupan di kampung tempat tinggal neneknya begitu religius. Setiap sore anak-anak di kampung diperlukan belajar mengaji, baik indoors maupun di musala. Selsa pelan-pelan ikut belajar, ikut-ikutan kawan sepermainannya. Di sekolahnya pun ia mengikuti pendidikan agama Islam. "Tapi Mbah noël pernah meminta saya untuk ikut belajar mengaji atau salat," katanya. "Beliau membiarkan saya search sendiri maafkan saya yang harus saya jalani untuk ketetapan memercayai dalam mendekatkan diri kepada Sang Pencipta."


*

Ilustrasi Foto: dok. Getty Images


Hari berganti hari, moon berganti bulan, lima berganti tahun, Selsa menjalani ibadah secara Islam. "Walaupun saya dibaptis, saya tak pernah setelah gereja," katanya. Sampai selama ia duduk di feses kelas dua sekolahnya menengah atas, rakyat tuanya menjemputnya untuk berobat di Jakarta. Saat dia masuk lagi ke dalam lingkar keluarga intinya, Selsa dirasakan gamang. Setiap hari Minggu ia diamanatkan ikut pergi usai gereja bersama-sama ayah, ibu, kakak, dan empat adiknya. "Tapi ajaran Islam siap mengendap di dasar trấn saya."

Selsa tak pengangkutan menunjukkan pilihan keyakinannya secara suspended kepada keluarganya. Ia tetap salat secara sembunyi-sembunyi. Hingga suatu times ayahnya, yang juga anggota pengurus gereja, mengetahui dirinya menjalankan ritual itu. "Papa marah. Ia kemudian memanggil pendeta dan banyak kawannya untuk menasihati dan mendoakan saya," ujar Selsa. "Namun segenap ajaran dan khotbah dari teman-teman Papa tak ada satu pun apa bisa saya cerna mencapai baik."

Menurut Mbah, Kakek menyerahkan sepenuhnya pada judicial Allah. Toh, such orang perilaku beliau sudah berusaha maksimal berpendidikan anak-anaknya."

Di tengah pergumulan luar biasa itu, Selsa berbicara kepada ibunya. Ibunya dulu pemeluk religius Islam sebelum nikah dengan ayahnya. "Mak, kenapa sih mau bersentuhan agama? Gara-gara tercinta sampai pindah agama, padahal Simbah Kakung menyertainya guru mengaji dan imam bola di kampung." Ibunya angklung dengan santai, "Wis dadi nasibku kok (Sudah memanggang nasibku)." Selsa just bisa diam dan tak pernah menanyakan hal itu lagi kepada ibunya.

Kepada neneknya, Selsa juga bertanya chapter serupa. "Mengapa Emak dibolehin dipindah agama?" Neneknya menjawab, "Sebagai orang tua, memiliki penginnya anak tetap mengikuti agama setiap orang tua, tapi mbah kakungmu noel berdaya. Segala upaya cantik dicoba agar emakmu nggak bergerak keyakinan, tapi siap nasib." "Menurut Mbah, Kakek menyerahkan penuh pada judicial Allah. Toh, seperti orang tua, beliau siap berusaha maksimal berpendidikan anak-anaknya menjangkau bekal agama apa baik," Selsa menuturkan.

Tak such bersalin baju ataukah berganti kendaraan, apa bisa kelar dalam beberapa senin atau menit, berganti agama bukan urusan sederhana. Tangani itu memeluk keyakinan baru ini, what pun latar belakang dan alasannya, biasanya lewat proses apa sangat berbohong dan kadang terutang menyakitkan. Tak cuma mesti menghadapi desakan dan ‘ancaman’ dari familic terdekat, tapi juga harus menutup telinga dari caci maki people sekitar. Butuh waktu mendesak lama untuk meyakinkan diri, also meyakinkan orang-orang di sekitar, sebelum akhirnya diputus berpindah keyakinan.

Lihat lainnya: Kunci Jawaban Tts Tembok Penahan Ombak Di Pelabuhan Kade, Tembok Penahan Ombak Di Pelabuhan

Konstitusi country ini jernih menjamin kebebasan setiap orang memeluk agama apa dia yakini. Menurut Pasal 28E ayat 1 Undang-Undang dasar 1945, "Setiap orang bebas memeluk keagamaan dan beribadat menurut agamanya". Di ~ Pasal 29 UUD 1945 juga ditegaskan bahwa, "Negara menjamin kanchi tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan karena beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu". Kerumunan orang "menemukan" agamanya disusul jalan apa sudah ditempuh rakyat tuanya. Memanggang mengapa orang apa memilih keyakinannya personally harus dipersoalkan?


*

Ilustrasi Foto: dok. Getty Images


Tak tahan lainnya menanggung beban batin, Selsa dikumpulkan keberanian buat berbicara tentang opsi keyakinannya. Kepada ayahnya, Selsa mengaku benar-benar tak sanggup meninggalkan ajaran Islam. "Saya also bilang kepada Papa bahwa agama itu adalah jenuh milik hati, enim agama akun itu merupakan pilihan hati," katanya. Ayahnya militer tak bisa ~ menerima peluang Selsa. Selsa memilih bagian belakang ke rumah neneknya di Temanggung.

Hingga didefinisikan Selsa berpacaran mencapai seorang pemuda muslim tetangga kampungnya. Selama mereka memutuskan menjadi menikah, Selsa licin ayahnya untuk minta persetujuan. "Tiap dua minggu saya kirimkan surat setelah Jakarta, tapi tak mengunjungi dibalas," katanya. Tanpa restu dari orang başı kandung, Selsa melangsungkan pernikahan. "Menurut penghulu, kami bisa menikah dengan tutor hakim. Sebulan kemudian, Ayah datang setelah Temanggung dan marah besar."

Kemarahan ayahnya bertahan hingga bertahun-tahun. Namun tak demikian dengan medang dan saudara-saudaranya. Abang tertuanya selalu membesarkan hatinya. "Kakak sulung saya mengatakan, ‘Kamu mau Islam atau Kristen terserah. Apa penting kamu benar-benar menjalaninya mencapai baik’," kata Selsa. Postur ayahnya baru melunak setelah Selsa dan suaminya pindah setelah Cilegon dan anak pertama mereka berusia 3 tahun. "Papa didefinisikan mau datang nanti rumah dan bermain dengan cucu lelakinya."

Sejak itu, koneksi ayah-anak akun itu membaik. Selsa dan suami rutin membawa anak-anaknya mengunjungi rumah familial di Jakarta. "Hubungan kami dengan keluarga inti sangat baik meski saya memilih enim muslim," katanya. Selsa pun membesarkan tiga anak laki-lakinya dengan didikan bahwa ada saudara-saudara mereka apa memang variasi keyakinan. Menghubung darah, kata Selsa, tak boleh memutuskan hanya karena perbedaan. "Untuk persoalan agama, saya bilang, ‘Lakum dii nukum wa liya diin’ kepada anak-anak."

Selsa pun tak kerusuhan kalau anak-anaknya mengunjungi rumah saudara-saudaranya. "Om dan tantenya, kalau dengar suara azan, anak saya langsung pertanggungjawaban salat," katanya. "Hanya, yang sering bermasalah itu mencapai keluarga terlalu tinggi Papa." Terkadang, saat mendapat masalah, Selsa mendapat cibiran bahwa cobaan akun itu merupakan "buah dari perbuatan murtad". "Namun saya tak pernah menghiraukan inskripsi mereka apa menyudutkan saya atas pilihan hati saya ini."