Wahai Suami dan Istri, Bacalah kematian Ini Maka Kau akan Bahagia dunia Akhirat - karena para suami dan istri serta yang belum menikahpun sanggup mengambil hikmah dari kisah sepenuhnya inspirasi ini.


Anda sedang menonton: Kisah inspiratif islami suami istri

*

Kisah cinta Ali bin Abi Thalib menjangkau Fatimah Az-Zahra
Inilah kematian cinta penasaran antara Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra. Kekasih sahabat Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra memang luar biasa indah, cinta yang selalu terjaga kerahasiaannya dalam sikap, kata, maupun ekspresi. Hingga didefinisikan Allah menyatukan mereka di dalam sebuah ikatan mengucapkan pernikahan.Konon, karena saking teramat rahasianya, setan saja noël tahu urusan tercinta diantara keduanya. Siap lama Ali terpesona dan memukul hati di atas Fatimah, ia pernah tertohok dua kali saat Abu Bakar dan Umar melamar Fatimah. Sementara dirinya belum siap untuk melakukannya.Namun, kesabaran beliau berbuah manis, lamaran senin orang sahabat apa sudah noël diragukan another keshalihannya tersebut ternyata ditolak malalui Rasulullah. Hingga akhirnya Ali memberanikan diri, dan ternyata lamarannya apa mesti just bermodal baju besi diterima malalui Rasulullah.Di sisi lain, Fatimah ternyata juga sudah lama memendam cintanya kepada Ali. Di dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu days setelah keduanya menikah, Fatimah berkata kepada Ali:"Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu, aku pernah satu kali merasakan bang cinta kepada seorang pemuda dan aku ingin menikah dengannya":Ali pun meminta mengapa ia tak mau nikah dengannya, dan apakah Fatimah menyesal menikah dengannya.Sambil tersenyum Fatimah Az-Zahra menjawab, "Pemuda itu adalah dirimu".
*

Diceritakan, Ali Bin Abi Thalib waktu itu dicari melamar Fatimah, putri nabi Muhammad saw. Tapi untuk dia noël mempunyai uang untuk membeli mahar, maka ia membatalkan niat itu. Ali segera berhijrah karena bekerja dan collected uang. Diatas saat Ali sedang bekerja keras, ia mendengar kabar kalau Abu Bakar ternyata melamar Fatimah. Wah, koknya agaknya perasaan Ali, wanita apa sudah itu inginkan dilamar oleh seseorang apa ilmu agamanya lebih hebat dari dia. Tetapi Ali tetap bekerja mencapai giat.Lalu usai beberapa lama Ali mendengarkan kabar kalau lamaran Abu Bakar kepada Fatimah ditolak. Ali tertegun dan sedikit bergembira tentunya, kata Ali "waah, saya masih punya kesempatan ". Setelah mendengar kabar itu, Ali bekerja lebih giat lainnya agar cepat mengumpulkan uang dan langsung melamar Fatimah. Tapi tak lama usai itu, Ali mendengarkan kabar kalau Umar Bin Khatab melamar Fatimah. Wah, begitu banyak, begitu banyak lagi Ali mendahulukan orang lain, bagaimana perasaannya? Tapi tak bagaimana lama Ali mendengarkan kalau lamaran Umar bin Khatab ditolak. Betapa senangnya Ali, mendengarkan kabar itu.Tapi tak lama, kesenangan itu back pudar untuk terdengar kabar lagi, ternyata utsman bin Affan melamar Fatimah. Ini sudah yang ketiga kalinya, kata Ali "mungkin kali ini diterima. Kalaulah Usman noel melamar Fatimah secepat mungkin ini, InsyaAllah noël lama lainnya saya ini adalah melamar Fatimah, tapi , apa hendak dikata , adakah mau mengalah?".Dan sekian lagi, noel berapa lama dari itu, kabar ditolaknya lamaran uthman bin Affan pun sounds lagi, betapa bahagianya Ali. Semangat Ali untuk melamar Fatimah pun berkobar lagi, dan semangat menyertainya didukung melalui sahabat-sahabat Ali. Kata sahabatnya " berangkat Ali, lamar Fatimah sekarang, tunggu apa lagi? kamu kan siap bekerja sulit selama ini, kamu juga sudah collected harta dan cukup untuk membeli mahar. Tunggu apa lagi? Tunggu apa ke4 kalinya? baik cepat!"Dengan langsung Ali memeberanikan diri untuk menghadap ke Nabi Muhammad saw. Dengan tujuan melamar Fatimah, dan sahabat-sahabat tahu? lamarannya diterima!Ternyata memang dari dulu Fatimah az-Zahra siap mempunyai perasaan mencapai Ali dan menunggu Ali buat melamarnya. Begitu juga dengan Ali, dari dulu dia also sudah mempunyai perasaan menjangkau Fatimah az-Zahra. Tapi mereka setia sabar menyembunyikan perasaan itu sampai saatnya tiba, sampai saatnya Ijab Kabul disahkan. Walaupun Ali siap merasakan kekecewaan 3 kali mendahulukan orang lain, akhirnya kekecewaan itu terbayar juga."Jodoh memang tidak kemana",dari tale itu, lebih memperjelas another kan bahwa "Cinta itu, mengabadikan kesempatan , ataukah mempersilakan apa lain"
*

Cinta adalah chapter fitrah yang tentu saja dimiliki melalui setiap orang, namun bagaimanakah membingkai perasaan tersebut agar bukan Cinta apa mengendalikan ourselves kita, Tetapi ourselves kita yang mengendalikan Cinta. Bisa cukup berat menemukan teladan batin hal tersebut disekitar kita saat ini. Walaupun bukan tidak ada.. Barangkali, kita saja yang noël mengetahuinya. Dan inilah saga dari Khalifah ke-4, Suami dari Putri kesayangan Rasulullah sekitar membingkai perasaan dan bertanggung jawab menjadi perasaan tersebut "Bukan janj-janji"Akhirnya Ali pun menikahi Fatimah az-Zahra
Dengan menggadaikan baju besinya. Mencapai rumah apa semula dicari disumbangkan sahabat-sahabatnya tapi Nabi berkeras agar ia membayar bakinya, akun itu hutang. Mencapai keberanian karena mengorbankan cintanya bagi Abu Bakar, Umar dan Fathimah. Mencapai keberanian untuk menikah.Sekarang. ~ no janji-janji dan nanti-nanti. Ali adalah gentleman sejati.,"Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!" Inilah jalan dicintai para pejuang.Jalan apa mempertemukan kekasih dan segenap perasaan mencapai tanggungjawab. Dan di sini, dicintai tak pernah meminta untuk menanti. Seperti Ali.Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Apa pertama adalah pengorbanan. Apa kedua adalah keberanian. Dan ternyata tak kurang tambahan yang dilakukan melalui Putri Sang Nabi, di dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu aku (setelah mereka menikah) Fatimah berkata kepada Ali:"Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali merasakan memukul cinta di atas seorang pemuda"Ali syok dan berkata, "kalau begitu mengapa engkau mau menikah denganku? dan Siapakah pemuda itu"Sambil tersenyum Fatimah berkata, "Ya, buat pemuda menemani itu adalah Dirimu"
*



Lihat lainnya: Nama Organisasi Pemuda Di Nusantara Ikuti Soegondo Djojopoespito Award

Dalam riwayat go diceritakan:
Dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu days setelah keduanya menikah, Fatimah berkata kepada Ali:Fatimah : "Wahai suamiku Ali, aku telah halal bagimu, aku pun mendesak bersyukur kepada Allah untuk ayahku memilihkan aku suami yang tampan, sholeh, cerdas dan baik sepertimu".Ali : "Aku pun begitu wahai Fatimahku sayang, aku sangat bersyukur kepada Allah didefinisikan cintaku padamu apa telah lama kupendam telah were halal dengan ikatan penasaran pernikahanku denganmu."Fatimah : (berkata menjangkau lembut) "Wahai suamiku, bolehkah aku berkata jujur padamu? untuk aku ingin terjalin komunikasi yang baik diantara kita dan melanjutkan rumah tangga kita".Ali : "Tentu saja istriku, silahkan, aku akan mendengarkanmu...".Fatimah : "Wahai Ali suamiku, maafkan aku, tahukah engkau bahwa sesungguhnya sebelum aku menikah denganmu, aku telah lama mengagumi dan memendam rasa cinta kepada seorang pemuda, dan aku dirasakan pemuda itu pun memendam rasa cintanya untukku. Namun didefinisikan ayahku menikahkan aku denganmu. Muncul aku adalah istrimu, kau adalah imamku maka aku pun ikhlas melayanimu, mendampingimu, mematuhimu dan menaatimu, marilah kita setia bersama-sama membangun keluarga yang diridhoi Allah"Sungguh bahagianya Ali dengar pernyataan Fatimah yang siap mengarungi bahtera kehidupan bersama, suatu pernyataan yang sangat jujur dan tulus dari hati perempuan sholehah. Tapi Ali tambahan terkejut dan agak sedih ketika mengetahui bahwa sebelum menikah dengannya ternyata Fatimah telah memendam perasaan kepada seorang pemuda. Ali merasa agak sedih untuk sepertinya Fatimah nikah dengannya karena permintaan Rasul yang tak go adalah ayahnya Fatimah, Ali kagum mencapai Fatimah yang mau merelakan perasaannya demi taat dan berbakti kepada orang tuanya yaitu Rasul dan mau were istri Ali mencapai ikhlas.Namun Ali memang sungguh pemuda apa sangat baik hati, ia memang mendesak bahagia begitu banyak, begitu banyak telah menjadi suami Fatimah, tapi untuk rasa cintanya untuk Allah apa sangat tulus kepada Fatimah, trấn Ali pun dirasa agak bersalah jika trấn Fatimah terluka, karena Ali sangat knows bagaimana rasanya menderita karena cinta. Dan sekarang Fatimah sedang merasakannya. Ali bingung dicari berkata apa, perasaan dengan melakukan hatinya bercampur aduk. Di satu sisi ia sangat senang telah menikah dengan Fatimah, dan Fatimah pun telah ikhlas menjadi istrinya. Tapi disisi lain Ali knows bahwa trần Fatimah sedang terluka. Ali pun terdiam sejenak, ia tak menanggapi pernyataan Fatimah.Fatimah pun lalu berkata, "Wahai Ali suamiku sayang, Astagfirullah, maafkan aku. Aku tak ada niat ingin menyakitimu, demi Allah aku hanya ingin jujur padamu, saat ini kaulah pemilik cintaku, king yang menguasai hatiku.".Ali masih saja terdiam, bahkan Ali mengalihkan pandangannya dari wajah Fatimah yang viip itu.Melihat postur Ali, Fatimah pun berkata sambil merayu Ali, "Wahai suamiku Ali, tak usah lah kau pikirkan kata-kataku itu, marilah kita dikutuk nikmati malam indah kita ini. Ayolah sayang, aku menantimu Ali".Ali militer saja terdiam dan noel terlalu menghiraukan rayuan Fatimah, tiba-tiba Ali pun berkata, "Fatimah, kau tahu bahwa aku terutang mencintaimu, kau pun untuk mengetahui betapa aku pertarungan memendam rasa cintaku demi buat ikatan penasaran bersamamu, kau pun juga tahu betapa bahagianya kau telah menjadi istriku. Tapi Fatimah, tahukah engkau saat ini aku juga sedih karena mengetahui hatimu sedang terluka. Sungguh aku tak ingin orang apa kucintai tersakiti, aku bisa dirasa bersalah jika jika kau menikahiku bukan untuk kau sungguh-sungguh kekasih kepadaku. Walaupun aku kenal lambat laun pasti kau become sangat sungguh-sungguh mencintaiku. Tapi aku tak dicari melihatmu sakit sampai akhirnya kau mencintaiku.".Fatimah pun tersenyum mendengarkan kata-kata Ali, Ali diam momen sambil merenung, tak terasa mata Ali pun start keluar wait mata, lalu dengan mendesak tulus Ali berkata lagi, "Wahai Fatimah, aku sudah menikahimu tapi aku belum menyentuh sedikit pun dari dirimu, kau masih suci. Aku rela menceraikanmu malam ini agar kau bisa nikah dengan pemuda yang kau cintai itu, aku menjadi ikhlas, lagi pula pemuda itu also mencintaimu. Jadi aku tak menjadi khawatir ia menjadi menyakitimu. Aku tak dicari cintaku padamu just bertepuk sebelah tangan, sungguh aku terutang mencintaimu, demi Allah aku tak dicari kau terluka... Menikahlah dengannya, aku rela".Fatimah tambahan meneteskan airmata sambil tersenyum melihat Ali, Fatimah sangat kagum dengan ketulusan cinta Ali kepadanya, selama itu tambahan Fatimah berwewenang berkata kepada Ali, tapi Ali memotong dan berkata, "Tapi Fatimah, sebelum aku menceraikanmu, bolehkah aku kenal siapa pemuda yang kau pendam rasanya cintanya itu?, aku berjanji tak become meminta apapun lagi darimu, namun izinkanlah aku mengetahui nama pemuda itu."Airmata Fatimah dialirkan semakin deras, Fatimah tak kokoh lagi membendung rasanya bahagianya dan Fatimah secepatnya memeluk Ali mencapai erat. Lalu Fatimah pun berkata mencapai tersedu-sedu,"Wahai Ali, demi Allah aku mendesak mencintaimu, sungguh aku sangat mencintaimu untuk Allah."Berkali-kali Fatimah ulang kata-katanya. Ke emosinya bisa terkontrol, Fatimah pun berkata kepada Ali, "Wahai Ali, Awalnya aku ingin tertawa dan menahan linge sejak lanskap sikapmu ke aku mengatakan bahwa akibat aku memendam rasa cinta kepada seorang pemuda sebelum menikah denganmu, aku hanya ingin menggodamu, sudah lama aku ingin sanggup bercanda mesra bersamamu. Tapi kau malah membuatku menangis bahagia. Apakah kau tahu acibe pemuda itu cantik menikah".Ali menjadi bingung, Ali pun berkata dengan selembut mungkin, walaupun ia kesal dengan ulah Fatimah kepadanya "Apa maksudmu wahai Fatimah? Kau bilang padaku bahwa kau memendam rasa cinta kepada seorang pemuda, tapi kau malah kau bilang mendesak mencintaiku, dan kau also bilang ingin tertawa melihat sikapku, apakah kau ingin mempermainkan aku Fatimah?, sudahlah silakan sebut siapa nama belakang pemuda itu? mengapa kau mengharapkannya walaupun dia cantik menikah?".Fatimah pun bagian belakang memeluk Ali mencapai erat, tapi kali ini menjangkau dekapan apa mesra. Lalu menjawab bertanya Ali dengan manja, "Ali sayang, kau benar such yang saya katakan bahwa aku memang telah memendam rasanya cintaku itu, aku memendamnya bertahun-tahun, sudah sejak lama aku dicari mengungkapkannya, tapi aku terlalu takut, aku tak ingin pesan anugerah cinta yang Allah berikan ini, aku pun kenal bagaimana saya memberikannya memendam rasa cinta apalagi silam aku sering bertemu dengannya. Hatiku pembicaraanmalaysia bila ku pertemuan dengannya. Kau tambahan benar wahai Ali cintaku, ia memang cantik menikah. Tapi tahukah engkau wahai sayangku, diatas malam pertama pernikahannya ia malah dibuat menangis dan kesal oleh perempuan yang baru dinikahinya"Ali pun masih agak bingung, tapi Fatimah segera keuangan kata-katanya dengan nada yang semakin olokan Ali, "Kau ingin tahu siapa pemuda itu? Baiklah become kuberi tahu. Muncul ia berada disisiku, aku sedang memeluk mesra pemuda itu, tapi kok dia diam saja ya, padahal aku memeluknya terutang erat dan berkata-kata manja padanya, aku sangat mencintainya dan aku pun sangat senang ternyata memang dugaanku benar, ia juga sangat mencintaiku..."Ali berkata kepada Fatimah, "Jadi maksudmu...?"Fatimah pun berkata, "Ya wahai cintaku, kau benar, pemuda itu bernama Ali bin Abi Thalib sang pujaan hatiku".Subhanallah, Betapa Indahnya kisah Cinta antara Ali Bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra. Maha bermusim Allah, Dia-lah yang mengatur segalanya. Dia-lah apa telah menyortir jodoh, rezeki, pertemuan, dan maut dari setiap insan di dunia.Pesan Rasulullah kepada Fatimah az-ZahraAyahanda apa penyayang terus merenung puterinya dengan jam kasih sayang, "Puteriku, maukah engkau kuajarkan sesuatu yang lebih baik daripada maafkan saya yang kau pinta itu?""Tentu sekali ya Rasulullah," jawab Siti Fatimah kegirangan.Rasulullah saw. Bersabda, "Jibril telah mengajarku mayoritas kalimah. Setiap kali selesai shalat, hendaklah melafalkan "Subhanallah" sepuluh kali, "Alhamdulillah" sepuluh kali dan "Allahu Akbar" sepuluh kali. Kemudian ketika hendak tidur dibaca "Subhanallah", "Alhamdulillah" dan "Allahu Akbar" ini sebanyak tiga puluh tiga kali."Ternyata amalan menyertainya telah memberi kesan kepada Siti Fatimah. Semua pergerakan rumah dapat dilaksanakan dengan mudah dan sempurna meskipun tanpa pembantu rumah.