Ini adalah saga Soemarno, korban pertama pembantaian dukun santet yang merebak di Banyuwangi diatas 1998.

Anda sedang menonton: Dukun dayak vs dukun jawa


Pada Rabu siang, 4 Februari 1998, Taufik Kurniawan, kala itu ia masih duduk di bangku sekolah menengah pertama, sedang asyik bermain interkom dalam tetangganya, Sukir. Belum lama ia interkoman mencapai temannya, dari arah barat rumah Sukir suara sayup-sayup voice orang berteriak, “Si Kumbang hitam datang, Si Kumbang black datang.”

Orang akun itu berteriak lantang sambil diboncengkan tukang ojek. Semakin dekat, Taufik terkejut ketika melihat rakyat itu adalah Soemarno, sosok apa oleh para warga Dusun Sumberwadung, Desa Kaligondo, Kecamatan Genteng, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, sedang diburu karena dianggap kemudian dukun santet.

“Pak No (Soemarno) itu back lagi pulang usai Sumberwadung nanti sebulan lebih berguru usai Banten,” ujar Taufik, yang kini menjadi Kepala Dusun Sumberwadung, saat ditemui fasettoblog.comX di bureau Desa Kaligondo, Kamis, 24 Januari 2019.

Tak berselang lama ke kepulangannya itu, Soemarno tewas pembantaian warga. Tewasnya Si Kumbang hitam itu oleh beberapa pihak disebut kemudian pembuka atas rentetan pembantaian terduga dukun santet yang melanda Banyuwangi, Jember, dan Malang sepanjang Februari-September 1998.

Santet atau ilmu sihir memang since lama lives di tengah-tengah budaya masyarakat Osing, dicuri etnis apa merupakan penduduk nguyên Banyuwangi. Perkara santet konvensional diselesaikan dengan sumpah pocong, apa difasilitasi oleh ulama setempat di masjid-masjid.


*

Taufik Kurniawan, saksi mata pembunuhan Soemarno, pria apa diduga dukun santet di Banyuwangi pada 1998 Foto: Ibad Durohman/fasettoblog.comX


Namun pemfitnahan kali pula terjadi kekerasan yang membuat terbunuhnya lebih dari satu rakyat dukun santet di dalam waktu yang bersamaan. Antropolog dari hochschule La Trobe, Australia, Nicholas Herriman, di dalam bukunya,Negara Vs Santet: Ketika rakyat Berkuasa, mencatat, sebelum lima 1998, setidaknya terjadi tiga kali "ledakan pembunuhan" terhadap dukun santet di kanton ujung timur pulau Jawa itu.

roti isi daging kan ada also yang mengejar pakai sepeda motor, tapi kalah cepat."

Pertama, diatas masa-masa ketidakpastian atau revolusi tahun 1945-1946, di mana ada dua dukun santet yang dibunuh selama Belanda datang. Kedua, bersamaan dengan pembunuhan simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) diatas 1965-1966. Meski tak tercatat seperti anggota PKI, sejumlah dukun santet dibunuh lantaran dinilai mengancam kerahasiaan masyarakat.

Ledakan pembunuhan ketiga adalah di atas saat operasi pembunuhan penjahat ataukah dikenal dengan penembakan misterius (Petrus) lima 1982-1983. Sementara di quận lain tujuan Petrus adalah benar-benar bromocorah, di Banyuwangi, kata Herriman, apa ditarget sesungguhnya adalah mereka apa diduga such dukun santet.

Pada 1998, mereka yang dituding such dukun santet bagian belakang menjadi korban kekerasan yang dilakukan warga. Pembantaian makin merajalela usai Bupati Banyuwangi saat itu, Turyono purnomo Sidik, publique radiogram dua hari setelah tewasnya Soemarno.

Radiogram diterbitkan purnomo agar jajaran di bawahnya mencegah sedini bisa terjadinya perusakan asibe kasus dukun santet. Namun, radiogram itu berujung di ~ pendataan orang-orang apa diduga itu adalah seorang master ilmu hitam. Bocornya nama-nama mereka menjadikan suasana tambah mencekam. Bukan hanya dukun santet, yang juga jadi korban antara lain petani, kiai, dan guru mengaji.

Kembali ke tale Soemarno, alasan dibunuhnya pria menyertainya terjadi beberapa bulan sebelumnya. Saat menemani itu di pengujung 1997, roti isi daging Sumberwadung resah oleh banyaknya ternak sapi milik roti isi daging yang mati secara misterius. Roti isi daging meyakini ternak yang mati itu adalah kelinci ujian dari dukun santet apa sedang melatih ilmu hitamnya.


salah satu bergambar penangkapan dan penganiayaan terhadap dukun santet di Banyuwangi Foto: repro buku Geger Santet Banyuwangi


Kecurigaan mengarah di atas Soemarno, pendirinya sebuah perguruan bela diri di desa, apa oleh roti isi daging dianggap sakti dan luaran ilmu kanuragan. Batin beberapa kesempatan, Soemarno kerap menunjukkan kesaktian. Taufik mengisahkan pernah batin suatu waktu Soemarno mematikan listrik di seluruh dusun kapan sedang ada hiburan meniduri tancap. “Itu banyak apa menyaksikan. Usai listrik dimatikan, itu bisa menyalakan lagi,” kata Taufik.

Tudingan burger kepada Soemarno sebagai dukun santet also diperkuat malalui pengakuan Jembling, mantan murid kesayangan Soemarno. Buat lebih meyakinkan, Jembling ~ mendemonstrasikan ilmu apa telah diajarkan gurunya itu nanti sebatang sanose kelapa. Pohon cocos itu ia mengatakan sampai layu, menghitam, lalu mati.

Belakangan, Jembling diketahui menyimpan pertikaian kepada Soemarno untuk persoalan bisnis cabai dan lalu keduanya terlibat perselisihan. Hingga akhirnya Jembling memberanikan diri melaporkan aktivitas mantan gurunya akun itu kepada warga. Warga yang telanjur tersulut emosinya didefinisikan datang berbondong-bondong persimpangan rumah Soemarno didampingi malalui Zubaidi, tokoh keagamaan setempat.

Kepada Soemarno, Zubaidi memberikan dua pilihan: tretan dari desa atau melunturkan seluruh ilmunya. Soemarno memahami mentah-mentah dua peluang itu. Beberapa waktu kemudian, eskalasi kebencian warga terhadap Soemarno kian menjadi. Soemarno, apa merasa terancam, pilihan mengevakuasi diri nanti rumah gurunya di Banten sambil berlatih ilmu kebatinan.

Sebulan kemudian, 4 Februari 1998, Soemarno back ke Sumberwadung dan justru dilihat warga kian jemawa. Nasib tragis finite menimpa Soemarno. Belum satu jam Soemarno istirahat di rumah, ratusan roti isi daging dusun dari dua rukun tetangga siap mengepung. Kalah jumlah, Soemarno melarikan diri setelah arah bureau kecamatan. Menurut banyak kesaksian warga, Soemarno running dengan sangat cepat dan tidak wajar. “Warga modernkan ada also yang mengejar memakai sepeda motor, tapi kalah cepat,” kata Taufik.


Di dekat stasi kereta fire Sumberwadung, sekitar 5 kilometernya dari rumah Soemarno, massa yang cantik membekali ourselves dengan aneka rupa senjata akhirnya berhasil melumpuhkannya. Noël ada perlawanan berarti dari Soemarno. Ilmu kebal apa ia pelajari dari Banten bersaing belaka. Di tengah siang bolong itu, Soemarno tewas mengenaskan.

Dusun Sumberwadung, Desa Kaligondo (yang ditandai merah) -- Foto : googlemaps

Setelah dieksekusi, jasad Soemarno dibawa kembali oleh warga setelah desa buat dimakamkan. Kapan peristiwa menyertainya terjadi, istri Soemarno sedang berhubungan dengan anak kedua. Untuk alasan keamanan, nanti kejadian tersebut, istri Soemarnomelarikan diri nanti Malaysia dan hingga kini belum back ke kampung halamannya.

Jembling sendiri hingga hari ini masih tetap tinggal di Sumberwadung. Dialah mengganti namanya menjadi Rahmat Hidayat nanti dia bersedia dirontokkan ilmunya oleh Zubaidi. Di atas saat eksekusi terjadi, Jembling noel terlibat. Dialah diamankan warga usai Pondok Pesantren Sumberwadung. Sehari-hari Jembling saat ini bekerja kemudian buruh tani. Jembling menolak diwawancaraifasettoblog.comX.

Seluruh warga desa yang terlibat batin pembunuhan Soemarno terbatas diadili. “Warga mendesak banyak apa ditangkap, ada dua RT itu ditangkap semua. Memanggang sepi tuh di sini, lelakinya ditangkap polisi semua. Hukumannya bervariasi. Paling lama saya dipenjara itu 2 tahun,” pungkas Taufik.

Suhalik, anggota tim dipum yang membantu penyelidikan komnas HAM berasosiasi kasus penyembelihan dukun santet ini, mengakui peristiwa pertama pembunuhan dukun santet terjadi di Kecamatan Genteng. "Awal mula penyembelihan dukun santet itu bulan Februari, setelah Pak Harto dibawah serentak itu. Puncaknya di bulan September 1998. Menyertainya terus meluas. Mulailah kejadian dukun santet akun itu di Genteng,” katanya kepada fasettoblog.comX.

Lihat lainnya: Camilan Favorit Keluarga, Cara Membuat Donat Yang Benar, Cara Membuat Donat Sederhana Untuk Pemula, Pasti

Di Kecamatan Genteng, berdasarkan booker Geger Santet Banyuwangi terbitan Institut Studi Arus insula (ISAI), jumlah korban penyembelihan dukun santet berbeda-beda. Menurut versi Tim Pencari kebenaran Pengurus kanton Nahdlatul Ulama Jawa Timur, korban five orang. Menurut versi Kompak sembilan orang. Sedangkan versi pemda Banyuwangi hanya dua orang.