*

Jendela dirusak, pintu dirusak, botani dirusak, cara dirusak, meteran listrik pun dicabut. Demikianlah nasib yang harus ditanggung tiga warga, anggota Paguyuban warga Penolak Penggusuran Kulon Progo (PWPP-KP) di atas Selasa pagi, 27 November 2017, tentang jam 10:00 WIB. Untuk komitmen mereka yang tetap mempertahankan ruang hidupnya (rumah dan tanah) dari proyek New Yogyakarta internasional Airport (NYIA), Kulon Progo.

Anda sedang menonton: Bmkg kulon progo hari ini

Berdasarkan peringatan cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan geofisika (BMKG) tertanggal 27 sampai 29 November, Wilayah quenn Istimewa Yogyakarta become dilanda cuaca ekstrim—Siklon penuh semangat Cempaka. Potensi angin kencang dan Puting Beliung pun diprediksi menjadi melanda sebagian besar Kabupaten Kulon Progo. Demikianlah yang saya harus baca dari situs on line www.bmkg.go.id usai sebelumnya menyaksikan rumah tiga roti isi daging PWPP-KP dirusak paksa. Di dalam cuaca ekstrim apa harusnya mereka dengan tegas mendapatkan rasa aman, namun malah mendapatkan intimidasi dan ditegakkan mengosongkan rumahnya melalui pihak secara spasial Pura (AP) I.

Merusak Paksa, Cara AP i Merubah Sikap roti isi daging

di atas 27 November 2017 saya hanya menyaksikan sisa-sisa dari tindakan pengosongan paksa melalui PT AP I yang dibantu aparat gabungan Kepolisian Resor (Polres) Kulon Progo. Menurut Rilis PWPP-KP, apa dipublikasikan malalui selamatkanbumi.com pada 28 November 2017, eksekusi dibantu oleh aparat bersenjata laras panjang, gas air mata, dan stik pemukul. Alat berat mulai masuk ke halaman rumah warga tentang 09:40 Selasa, 27 November 2017. Menurut Komisaris Polisi (Kompol) Sudarman, Kapala potongan Oprasional (Kabag Ops) Polres Kulon Progo, ada 138 personil apa diturunkan. “Kami does pengamanan khusus untuk agenda pengosongan (lahan-red) apa akan dilakukan selama empat days ke depan,” ungkapnya, cited dari detik.com (27/11).

Saya menepi sedikit ke timur. Berhati-hati melewati potongan jalan yang masih tersisa. Sebagian geram jalan di dekat masjid Al–Hidayah, Desa Palihan, Kulon progo menemani itu telah dikeruk dengan tool berat. Tujuan kerukan itu form lubang sedalam satu meter sehingga tidak mungkin another dilalui pengangkutan ataupun sepeda motor. Di depan masjid terdapat plang bertulis ‘masjid ini noël dijual’. Jalan yang dikeruk menemani itu pun adalah satu-satunya akses ke rumah burger bernama Fajar. Sempat juga saya lanskap bekas ruang angkasa meteran listrik masjidil dan rumah senja yang telah dicopot.


dawn adalah roti isi daging PWPP-KP apa tetap menolak menjual tanah dan rumahnya buat proyek bandara. Kejadian pengosongan paksa oleh AP I aku itu tak jenuh disaksikan Fajar. Saat kejadian berlangsung ia sedang berada di ladang, istrinya apa mengabarkannya. “Waktu Kapolsek mempersilahkan pihak secara spasial Pura, katanya harus eksekusi. Saya bilang, saya nggak ada kesepakatan apapun dengan secara spasial Pura,” ungkap senja pada Polisi siang itu.

Awal bertemu dengan Fajar, ia sedang sibuk memperbaiki kabel lampu apa disalurkan dari tetangganya yang berjarak cukup jauh. Bab itu ia lakukan buat sekedar mendapat penerangan di rumahnya. Sebab listrik di rumah dawn telah koneksi rusak oleh PLN, padahal senja baru saja dibayar listrik. “PLN langsung putus (listriknya-red) kota setengah sebelas,” tale Fajar. “Orang hidupku diperlukan kehidupan, butuh terang, kalo anda (PLN-red) mutus hak people lain, miliki udah hari berikutnya di akhirat menjadi mendapat azab,” kecamnya.

dawn menerangkan ada tiga pintu rumahnya yang dirusak dan sembilan jendela. “Sudah buyar semua (jendela dan pintu-red), sekarang cantik saya tempel dengan paku,” ungkap fajar sambil menatap jendela rumahnya.

Nasib yang sama juga dialami lelaki bernama Yuyun, burger Dukuh Palihan, yang akses jalan, pintu rumah, dan meteran listriknya tambahan dicabut. Untuk sampai nanti rumah Yuyun saya melewati mengaburkan lumpur dan tanah. Saat akun itu saya ditemani warga PWPP-KP. Dalam perjalan itu hanya terlihat pemandangan rumah-rumah apa sudah digusur, bercampur lumpur seperti baru saja dilanda badai geram atau tsunami.

Yuyun baru saja selesai kerjanya keras ayam potong di belakang rumahnya. Usai selesai mencapai pekerjaanya saya dipersilahkan setelah ruang tamu. Dari jendela saya masih melihat sanose kelapa dokter rumahnya yang sudah porak-poranda bekas pengosongan paksa AP I.


Ia menceritakan crowd aparat yang datang kekuasaan mencopot pintu rumahnya. Times kejadian ia tuntutan istrinya tetap di dalam rumah. “Beberapa people itu membawa lingis, coba copot pintu,” tale bapak dua anak ini.

Yuyun mengunakan generator buat meteran listrik di rumahnya juga dicopot. “Padahal baru saja saya isi Rp. 200.000,” ungkapnya.

Di ujung obrolan fajar bercerita bahwa eksekusi ini hanyalah simbolis. “Ini eksekusi cuma simbolis mas,” cerita fajar yang menyaksikan kejadian itu. Details tersebut pun tak sengaja ia mendengarkan dari aparat. “Masa eksekusi cuma simbolis?” tanya dawn bingung.

Mengutip berita detik.com, Senin, 27 November 2017 pelepasan pintu dan jendela memang merupakan upaya simbolis karena merubah sikap warga. Halaman itu disampaikan segera Pimpinan proyek Pembangunan NYIA dari PT AP I, Sujiastono. “Harapanya what yang kami lakukan ini bisa alter sikap warga,” katanya.

Ora menungso, iku binatang! (Bukan manusia, menemani itu binatang)” besar Hermanto saat ditemui di lokasi pengosongan paksa. Hermanto bercerita times kejadian dialah sedang mengajar. Sepulang doktrin ia sudah menemukan pohonnya serta patung-patung dan reliefnya dirusak. Hermanto memang luaran sanggar seni. “Aku iki disini jihad mas,” tegasnya menutup obrolan.

Lihat lainnya: Berikut Judul Buku Fiksi Adalah, Tuliskan Masing

Tiga warga yang terdampak pengosongan paksa AP ns masih bertanya maafkan saya motif dari tindakan represi polisi dan pencabutan listrik malalui PLN Yogyakarta. Sementara mereka dan burger PWPP-KP masih berkomitmen tetap menolak konsinyasi dan jual rumahnya buat dijadikan proyek bandara NYIA.

Beberapa burger mendokumentasikan peristiwa pengosongan paksa pagi itu. Batin video berdurasi satu kota tersebut seorang medang berseru, “Ya Allah! memiliki Allah ! ampun kan mereka yang noël ada belas kasihnya, memiliki Allah, mereka merusak alammu memiliki Allah!” mencapai mengenakan caping, berdiri di bawah hujan, di dekat batang pohon kelapa yang roboh, dekat machin bego, ia tetap berdoa saat para aparat melakukan pengosongan secara paksa. (Ilham Lazuardi)